Self-Journaling: English Performance di Karawang!
Beberapa waktu lalu, di tengah jadwal yang sangat padat, saya menerima pesan WhatsApp dari rekan guru bahwa akan diadakan kompetisi English Performance di Karawang pada tanggal 10 Oktober 2026.
Awalnya sempat ragu karena banyaknya pertimbangan subjektif saya. Namun, salah satu anggota English Corner bersemangat untuk mengikuti lomba ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih talenta di generasi yang baru menginjak tahun pertama ini dengan waktu yang sangat singkat, 7 hari.
Di tengah agenda sekolah yang begitu produktif, kami mencuri-curi waktu juga tempat untuk berlatih. Tidak banyak yang bisa saya ajarkan kepada mereka. Sejujurnya, dengan penampilan berdurasi 4 menit yang bertemakan "Heartbreaking" ini, potensinya masih sangat bisa dimaksimalkan mulai dari naskah, akting, puisi, musik teatrikal, dan lain sebagainya. Namun, karena kami juga berpacu dengan waktu yang sangat singkat dan jadwal lainnya, kami jadi lebih realistis.
Saat itu, kami hendak membawakan Wildflower dari Billie Eillish, sehingga membutuhkan penyanyi perempuan. Di H-3, beruntung saat itu ada murid kelas XII yang dapat membantu kami mengiringi walau pada akhirnya tim gitaris cukup kesulitan mengatur dan menyelaraskan tempo dan kord saat berlatih.
Beberapa peserta telah menampilkan banyak sekali macam pertunjukan. Di antara mereka ada yang full singing, ada yang memang full drama, dan ada yang hybrid, seperti yang akan kami lakukan.
Sebelum English Corner mulai tampil, saya memperhatikan penampilan SMAS Budi Mulia Telukjambe Karawang yang plotnya sangat solid. Bukan hanya itu, mereka juga menyisipkan materi promosi Universitas Horizon yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kami. Bukankah itu justru menjadi momen spesial yang sangat dinanti oleh tuan rumah? Kasarnya, menjilat juri secara artistik.
Dalam arti positif, mereka sangatlah performatif! Spektrum akting mereka sangatlah luas. Ada narator yang timing-nya pas, latar musik dari audio yang berselang-seling dan diisi dialog yang begitu lancar, ada koreografi yang bersemangat, ada joget Brasil, ada aksi tawuran, hingga propertinya begitu matang seperti celurit panjang berbahan dasar kardus dan plastik saat adegan tawuran yang saya rasa dipersiapkan dari jauh-jauh hari, bahkan letupan dua konfeti yang menutup drama mereka terasa begitu pas. Tak heran para juri memberikan standing applause dan menjadikan jawara kompetisi English Performance Dreamquest tahun ini. Sesuai dugaan saya saat kali pertama melihat mereka tampil!
Saya masih mengingat sekali adegan mereka yang menarik puluhan pasang mata audiens. Saat itu, di adegan tawuran, sang karakter utama berusaha melerai aksi kekerasan dengan meninju bumi dengan efek latar suara ledakan, sehingga para aktor di sekitarnya bertingkah seolah terpental. Ini membuat sang juri berdecak.
Dan ini bukan hanya tentang seberapa sempurna artikulasi bahasa Inggris mereka atau seberapa menakjubkan pelafalannya; mereka juga totalitas di atas panggung. Mereka pintar menarik perhatian audiens dan juri dengan penceritaan yang baik, plus menjilat tuan rumah. Dan sudah jelas itu bukan hasil 7 hari latihan. Tamparan buat saya adalah kembali mengingatkan bahwa ada kata 'performance' dari kata English Performance, bukan hanya English Skill. Bukan adu siapa yang paling bagus bahasa Inggrisnya, tapi mampu membuat para juri mencentang skor terbaik dari karakterisasi, performa, dan keselarasan.
Dari konsep, ketersediaan waktu dan tempat berlatih saja, kami sudah kewalahan. Walau saya sadar ini adalah kali pertama saya mendaftarkan tim pada kompetisi English Performance. Usaha pertama adalah mutlak milik kegagalan. Tugas saya hanya terus mencoba dan berusaha sebaik mungkin di setiap kesempatan. Di sisi lain, saya menjadi sangat tertantang untuk mempelajari celah kompetisi berikutnya. Ada banyak metode yang ingin saya terapkan dalam melatih kandidat potensial nantinya. Atau mungkin saya hanya perlu sedikit lebih keras terhadap mereka?
Selesai SMAS Budi Mulia Telukjambe Karawang tampil, kini giliran kami, English Corner.
Walaupun begitu, saya bersyukur sekali memiliki kepala sekolah yang dengan sigap mendukung niat baik kami. Meraih titik kejuaraan harus diniscayakan di segala lini.
Lalu, apa yang akan saya lakukan selaku pembimbing?
1. Saya akan menulis beberapa naskah teater untuk amunisi ke depan
2. Menerapkannya ke dalam konten bersama tim English Corner dan berkolaborasi dengan klub lain
3. Saat terbiasa, mereka bisa mulai berimprovisasi
Kudos for the team!

.jpeg)



.jpeg)


.jpeg)
Comments
Post a Comment