Ini Tugas Kamu atau Tugasnya ChatGPT?
Saya tidak tahu berapa kali lagi tulisan dengan tema seperti ini akan naik. Alih-alih kritik, tulisan model seperti ini pada akhirnya bergeser menjadi coping mechanism saja. Rasanya valid kok untuk seorang guru mengeluh di setiap zamannya. Mungkin saat saya masih menjadi anak sekolahan, saya sering dicap sebagai anak yang pemalas, pecandu game, dan lain sebagainya. Semua itu valid dirasakan.
Namun bagaimana pun juga, sudah menjadi tugas seorang guru untuk tetap menyuarakan keresahannya, bukan? Apa aja sih keresahan saya belakangan ini? AI!
Yak! Sebagaimana saya sebagai penguji sidang Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang hampir sebagian besar menemukan hasil laporan yang tidak original. Mereka menggunakan AI untuk mengerjakan laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Saya ulangi dengan bahasa lain: “Mereka mengganti otak mereka dengan mesin”.
Hampir setiap tugas-tugas yang diberikan dengan tujuan untuk mempertajam critical thinking mereka, diselesaikan dengan mesin bernama ChatGPT atau Claude atau apapun platform-nya. Mereka secara komunal menjadi generasi yang benar-benar fucked up bukan karena teknologi yang mutakhir, tapi minimnya kehadiran peran orang tua dan pemerintah.
Saya sebagai generasi milenial sejenak merasa sangat bersyukur karena digembleng dengan sangat… Tragis?? Hahaha! Tapi begini ironisnya, semakin sulit jalan yang kita pilih, justru akan semakin memudahkan hidup kita. Sebaliknya, semakin mudah jalan yang kita pilih, maka akan semakin menyulitkan kita ke depannya.
Menggunakan AI secara brutal untuk hal-hal yang justru meningkatkan kemampuan kita, justru akan menyulitkan kita ke depannya. Kita jadi semakin bergantung dengan mesin, sementara perusahaan besar secara berkala membatasi fitur-fitur AI mereka. Ditambah, semakin sering kita menggunakan AI Generative, ciri khas kita akan hilang. Voice kita sebagai manusia akan redup. Cara kita ngomong dan cara kita membentuk kalimat akan semakin mirip dengan mesin, dan itu semua membentuk cara berpikir kita.
Makanya, belakangan ini konten-konten di media sosial semuanya mulai seragam. Mulai sama. Karena sumbernya sama. Dan ini mulai membuat dunia digital semakin menjemukan. Isinya itu-itu aja. Semua ngejar kuantitas. Siapa yang paling banyak ngonten bakal dilirik algoritma. Ujung-ujungnya AI. Ah, itu masalah lain.
Topik utama di tulisan ini adalah bagaimana siswa-siswi terpengaruh dengan AI secara brutal. Bukan tidak boleh, tapi perlu dibatasi. Otak mereka sudah membusuk (brain-rotted) dengan konten-konten berdurasi pendek yang membuat span attention (rentang perhatian) mereka sangat minim. Menggunakan AI secara brutal hanya memperparah kondisi ini.
Sikap pemerintah sebenarnya sudah tepat dengan memasukkan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) ke dalam kurikulum sekolah untuk memperkenalkan disiplin baru. Hanya saja eksekusinya masih menjadi PR besar, di antaranya:
1. Fasilitas sekolah yang kurang memadai
2. Guru yang tidak menekankan etika dalam penggunaan AI
3. Pemerintah yang terkadang menggembar-gemborkan penggunaan AI di semua lini, dan bukannya mendorong kompetensi sumber daya manusianya.
Inilah tiga faktor yang membuat penyakit ‘bergantung pada AI dengan brutal’ jadi semakin akut. Mungkin muncul di kepala kita, “Sejauh mana sih kita boleh menggunakan AI?” Sebenarnya, selama kamu masih duduk di bangku sekolah, kamu enggak boleh menggunakan AI untuk mengerjakan tugas yang seharusnya bertujuan meningkatkan kemampuan kamu.
Sebagai murid, kamu diharapkan tidak hanya menjadi pintar dan kritis, tapi juga bermoral dan bertanggung jawab. Lain halnya, jika kamu seorang expertise yang menjadikan AI sebagai tool untuk mempermudah pekerjaanmu. Ditambah, isu lain tentang penyalahgunaan hak cipta yang saya sendiri sudah lelah memberitahu bahwa AI Generative lahir dari sebuah pencurian besar-besaran. Dan tidak semua orang peduli.
Jadi, ini tugas kamu atau tugas ChatGPT?





Comments
Post a Comment