Ulasan dan Refleksi Buku "Cara Memenangkan Hati dan Mempengaruhi Orang Lain"
Di awal tahun 2026 ini, aku belum memiliki cukup bujet untuk membeli buku-buku. Selain karena belum menganggarkan, aku juga belum menyelesaikan setidaknya lebih dari empat buku. Namun, rasa ingin menjelajah selalu menghampiri setiap waktu. Hingga di siang hari yang mendung di dalam perpustakaan, aku menemukan buku yang cukup menarik di laman-laman pertama kubaca. Judul asalnya adalah How to Win Friends & Influence People.
Aku rasa bukan karena aku ingin sekali mempengaruhi orang atau memenangkan hati mereka. Toh, aku bukan politisi. Aku hanya masih percaya bahwa buku terjemahan masih ada yang layak dinikmati. Karena buku-buku terjemahan seperti ini biasanya terdengar kurang "Indo" walaupun sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Nah, semoga ulasan inilah yang akan mengisi kekosongan itu.
Satu - Kalau mau mengambil madu, jangan tendang sarangnya
Di bab pertama, buku ini menekankan tentang betapa esensialnya menghindari untuk mengkritik orang lain. Ini adalah tamparan keras untuk saya betapa dulu suka memaksakan ideologi politik saya kepada orang lain. Mengkritik mereka dengan keras hampir setiap hari di media sosial dan di kehidupan nyata saat Pemilu 2024.
Padahal aku tidak sedang mengambil "madu" mereka, tapi aku mulai menyadari bahwa mereka terlihat enggan bersosialisasi denganku lagi. Konsekuensi menjadi kritis memang begitu, apalagi jika ranah politik. Namun, di tempat kerja yang baru ini aku tidak ingin asal menendang "sarang" orang agar bisa terhubung dengan yang lain, selama mereka tidak "menyengat".
Aku ingin mengutip dari buku ini tentang pepatah Yahudi kuno, "Kau akan dihakimi dari caramu menghakimi orang lain. Dan kau akan dinilai sesuai standar yang kau gunakan untuk menilai orang lain"
Di dunia ini, berbicara itu bebas, namun kita tidak pernah bebas dari konsekuensinya. Dan yang dibutuhkan untuk menjaga "madu" dari "sarang" orang lain adalah sikap dari kesahajaan dan kerendahan hati.
Dua - Kamu tidak bisa memimpin dengan kaki di atas meja
Kemudian menariknya, buku ini mengutip buku Ed Fuller yang berjudul You Can't Lead with Your Feet on The Desk di Bab 2-nya yang menurutku keren sekali. Karena frasa "kaki di atas meja" menggambarkan keangkuhan. Sedangkan, orang mana yang mau diajak kerja sama atau dipimpin oleh orang yang sombong?
Sombong itu tidak melulu digambarkan dengan wajah cuek, merengut, dan tak peduli sekitar, tapi juga merasa bisa dan merasa punya. Merasa punya kehebatan untuk menggurui. Merasa punya kendali atas hak orang lain. Merasa punya kontrol penuh terhadap hidup seseorang. That's arrogant!
Tiga - Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tak pernah gagal
Itu kata Henry David Thoreau, seorang filsuf asal Amerika Serikat. Namun, aku sedikit pesimis menanggapi ini di buku How to Win Friends & Influence People. Kalau aku bisa menyangkal di depan mukanya, mungkin aku akan berkata "Tapi, Thoreau. Sepertinya, kegagalan satu-satunya menjadi orang baik adalah dimanfaatkan."
Dalam hal ini, menjadi baik haruslah dalam porsi yang cukup. Tidak boleh berlebih dan sembarang tempat karena sudah banyak sekali contoh bahwa kebaikan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi sebuah tanggung jawab yang tak dihargai. Bantu dia sekali, dia akan berterima kasih. Bantu dia dua kali, ia mulai berharap.
Aku merasa dalam konteks ini sebaiknya dalam bersikap saja. Misal, meletakkan kepedulian kita terhadap perasaan seseorang. Sehingga kita memiliki branding yang baik sebagai manusia yang berempati.
Empat - Senyum dong!
Menurut American Academy of Cosmetic Dentistry, senyuman adalah aset sosial yang penting. Tapi justru pada kenyataannya, banyak sekali yang masih struggle dalam memunculkan senyum. Bahkan sampai ada yang merengut tidak jelas. Kita semua memiliki masalah personal masing-masing dan sudah lelah dengan problematika hidup, sepertinya kurang elok jika prengat-prengut menjadi budaya Indonesia.
Senyum bukan hanya soal menunjukkan keramahan, tapi juga soal bagaimana orang memandang kamu. Jika kamu tidak peduli terhadap cara self-branding, kamu bisa berhenti membaca ini. So, smile!
Lima - Menghargai hal-hal kecil
Buku ini juga memberikan referensi untuk tetap terhubung dengan orang lain. Mulai dari hal-hal yang sepele hingga yang kompleks. Misal, mengingat nama mereka dan menyimak saat mereka berbicara. Terdengar sepele, namun ini yang membuat orang lain merasa 'ada'. Mendengar dan mengerti adalah kekuatan untuk memberikan apa yang sangat diinginkan oleh orang lain.




Comments
Post a Comment