Bahasa tidak berkembang sementara teknologi terus mutakhir?

Artikel ini datang dari sebuah pertanyaan yang ingin sekali saya jawab panjang lebar untuk setidaknya bisa mencerahkan perspektif orang lain terhadap sebuah bahasa, terlepas dari itu, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa Jepang.

Pertanyaan ini datang dari rekan kerja saya. Suatu waktu di siang hari beliau menanyakan sebuah hal terkait perbedaan antara sektor bahasa dan sektor elektronika. Beliau bertanya, "Bukankah bahasa itu usang dan tidak berkembang? Misalnya, happy birthday sejak dulu selalu itu saja. Tidak ada perubahan. Sedangkan teknologi (atau elektronik) terus-menerus mengalami inovasi dan semakin berkembang seiring zaman."


Pertanyaan yang sangat bagus, dan saya sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia bahasa ingin menjawabnya dari sudut pandang yang berbeda. Setidaknya, saya akan membahas dari berbagai sisi:

1. Ucapan Happy Birthday

Di awal, beliau memberikan contoh frasa happy birthday yang terlihat tidak mengalami perubahan, kan? Nah, ini menarik untuk kita bahas.

Happy birthday adalah versi paling modern yang bisa kita ucapkan saat seseorang berulang tahun. Lho? Berarti ada versi terdahulu? EXACTLY! Dulu di zaman Victoria, orang-orang mengucapkan, "Many happy returns of the day". Memang panjang sih, tapi bahkan ini lebih memiliki makna yang mendalam daripada sekadar happy birthday. 

Di era Anglo-Saxon tahun 500-1100, ada yang lebih mind-blowing lagi dalam mengucapkan happy birthday, yaitu "Gesælig gebyreddæg to þe" dibaca yuh-sail-igh ye-bur-ed-day toe thee. Kebayang gak tiap ngucapin ulang tahun mesti ngomong ancient English?

Source: How to say Happy Birthday in Old English

Barulah sebuah lagu dari Stevie Wonder yang rilis di tahun 1980 berjudul Happy Birthday mulai dipakai dan populer hingga hari ini. Bahkan Gen Z sekarang menyebutnya HBD 😄 Dan intinya adalah ternyata bahasa berkembang, seperti dari "Gesælig gebyreddæg to þe" menjadi "HBD". It's so fucking dynamic! 

Tapi coba kita sejenak membayangkan betapa gawatnya kalau happy birthday di-update sebagaimana teknologi yang terus berubah tiap bulan? Bagaimana dengan frasa atau kata-kata lainnya? Bukankah justru kita mengalami diskoneksi yang luar biasa di antara kita? Bukan hanya antarnegara, tapi bahkan yang paling dekat di kehidupan kita seperti antarsuku atau antarras, bahkan keluarga internal.

Jelas di sini bahwa sifat bahasa tidaklah sama dengan teknologi elektronika. Ia memang berubah, tapi karena fungsinya untuk menjembatani, maka perubahan sebuah bahasa biasanya muncul setiap zamannya, dan di setiap zamannya, berbedalah watak serta perilaku orang-orangnya.

Jadi, asumsi bahwa bahasa tidak berubah adalah salah. Bahasa terus berkembang sesuai dengan zamannya.

2. Sifat Bahasa

Bahasa itu istimewa. Sifatnya menyatukan, tapi juga memisahkan. Bahasa itu fleksibel dan kita akan berada di posisi yang kurang tepat jika melihat bahasa seperti foto yang kaku dan begitu-begitu saja. Bahasa adalah sungai yang terus mengalir dan selalu menemukan jalur yang baru.

Karena bahasa sifatnya meminjam, menyerap, dan mengadopsi, kita bisa mengambil satu contoh kasus bahasa Inggris yang mengalami proses meminjam-menyerap-mengadopsi selama bertahun-tahun. Bahasa Inggris pernah meminjam-menyerap-mengadopsi bahasa Latin lewat para misionaris di awal zaman, bahasa Nordik lewat grup Viking, dan bahasa Prancis lewat Penaklukan Norman. Bahasa bisa dikatakan agresif dan submisif di saat yang bersamaan.

Karakteristik bahasa juga amat melekat pada manusia, teknologi, budaya, peperangan, perdagangan, dan migrasi. Ia akan hidup mekar bersama mereka dan berkembang sangat pesat. Bahasa mengikuti teknologi setiap kali teknologi mutakhir lahir. Contohnya, dulu belum ada kata laptop, kan? Lalu kita kenal sekarang istilah Artificial Intelligence (AI) yang sedang marak. Karena pesatnya perkembangan bahasa berbanding lurus dengan teknologi.

Bahasa akan selalu mengiringi apa pun bentuknya.

Bahasa yang mati, contohnya bahasa Latin, biasanya terjadi karena penutur aslinya telah punah dan tidak ada usaha dari 'manusianya' untuk memeliharanya, walau berbagai istilah di sektor-sektor ilmu hari ini banyak berasal dari bahasa Latin.

3. Jika bahasa tidak berubah

Oke, sekarang begini. Kalau bahasa tidak berubah sama sekali, kita, rakyat Indonesia, akan tetap menggunakan standar ejaan yang lama. Ini sama seperti menggunakan bahasa yang Ir. Soekarno proklamasikan pada tahun 1945. Bayangkan kamu sedang istirahat di kantor dan mengajak temanmu untuk membeli kopi, "Boeng, bagaimana jika kita menjantap kopi?" 😆😆😆



Comments

Popular posts from this blog

Remedial Time! - English Reading Comprehension Exercise

Self-Journaling: English Performance di Karawang!